Airbag sudah ada sejak tahun 1970-an, namun awalnya bukan sebagai perangkat penyelamat hidup yang kita percayai saat ini. Faktanya, mereka memiliki reputasi yang buruk. Para insinyur awal mengira airbag akan membantu orang yang tidak menggunakan sabuk pengaman. Mereka salah. Tanpa sabuk untuk menahan Anda di tempat, pengembangan airbag tidak akan menjadi bantalan dan lebih seperti palu godam. Anda didorong ke depan ke dalam tas yang meledak ke luar dengan kecepatan tinggi. Itu bukanlah sistem keamanan yang komprehensif. Itu diteliti dengan buruk. Dan itu membunuh orang.
Sulit untuk menentukan jumlah pasti korban jiwa pada era tersebut karena begitu banyak korban yang tidak mengenakan sabuk pengaman. Namun pemberitaan buruk terus berlanjut. Para pendukung terus mendorong. Mereka tidak menyerah.
Mandat Generasi Pertama dan Krisis Keselamatan Anak
Titik balik terjadi di Amerika Serikat ketika airbag depan diwajibkan pada tahun 1996. Para ahli menyebutnya sebagai airbag “generasi pertama”. Produsen mobil menghabiskan dua dekade berikutnya untuk memikirkan hal ini. Namun mereka takut dengan pemberitaan yang buruk. Penyebaran yang fatal merupakan mimpi buruk bagi hubungan masyarakat.
Catatan Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional (NHTSA) menceritakan kisah yang suram. Pada tahun 1997 saja, 53 orang meninggal akibat pemasangan airbag di kursi depan. Tiga puluh satu dari korban tersebut adalah anak-anak.
Tubuh anak-anak tidak dapat menahan tekanan tersebut. Teknologinya tidak disesuaikan untuk mereka. Solusinya bukanlah kejeniusan teknik. Itu adalah regulasi. Produsen mobil harus merombak standar keselamatan. Mereka memodifikasi kekuatan airbag. Mereka juga menerapkan aturan tegas: menempatkan anak-anak di kursi belakang. Gunakan kursi mobil atau booster yang sesuai usia. Itu bukanlah perbaikan yang sempurna. Tubuh kecil masih rentan. Tapi itu menggerakkan jarumnya.
Bangkitnya Sistem yang Cerdas dan Maju
Pada awal tahun 2000-an, industri ini kembali bergeser. Airbag “canggih” dan “pintar” memasuki arena. Persaingan untuk mendapatkan peringkat keselamatan teratas semakin ketat. Peraturan diperketat. Pabrikan mobil terpaksa memasang sensor di kursi depan. Sistem ini memperkirakan ukuran dan berat penghuni. Kemudian mereka menyesuaikan kekuatan penempatannya.
Itu tidak mudah. Banyak sistem awal yang tidak akurat. Produsen melakukan kesalahan. Namun lambat laun mereka bisa melakukannya dengan benar. Cakupannya juga diperluas. Bukan hanya airbag depan lagi. Airbag belakang muncul. Airbag samping ikut bertarung. Tirai airbag dipasang di atas jendela. Sistem baru ini menggunakan logika penerapan yang lebih akurat. Mereka menampilkan beberapa ruang yang kecil kemungkinannya untuk pecah.
Penarikan Kembali Takata dan Realitas Modern
Saat teknologi airbag mulai stabil, kegagalan besar pun terjadi. Pada tahun 2014, Takata mengakui adanya masalah kontrol kualitas. Pemasok OEM yang berbasis di Jepang membuat airbag untuk hampir semua produsen mobil besar. Cacat tersebut menyebabkan kantung udara mengembang secara berlebihan. Mereka menjadi rentan meledak. Pecahan peluru logam mengubah bantal menjadi pecahan peluru.
Takata kemudian mengungkapkan kelemahan tambahan yang terjadi pada tahun 2000. Hal ini memicu penarikan kembali kendaraan model tahun terbaru. Jutaan mobil terkena dampaknya.
Skandal Takata membuktikan satu hal: teknologi airbag mungkin tidak pernah sempurna. Tapi lihat lintasannya. Kami beralih dari jebakan maut untuk orang dewasa dan anak-anak yang tidak terikat ke sistem multi-ruang yang canggih. Mereka masih mengalami kemajuan. Mereka masih menyelamatkan nyawa. Pertanyaannya bukanlah apakah cara-cara tersebut berhasil atau tidak. Seberapa cepat kita akan melihat logika pengekangan generasi berikutnya.


















